Novel Rumah
SEGERA TERBIT DAN PRE ORDER EDISI TANDA TANGAN!
J.S. Khairen
5/8/202414 min read


Novel Rumah Episode 1
Perjalananmu sudah terlalu jauh.
Pulanglah.
Rumah memanggilmu.
Kalau tak punya, temukan, atau bangun sendiri.
Episode 1 - Pagar
CATATAN: INI ADALAH VERSI UNEDITED, BELUM DIEDIT FINAL OLEH TRIAN EDITOR GRASINDO. KALIAN TERPAKSA TERIMA NASIB. PO TANGGAL 25 DESEMBER DI LINK BIO, ATAU KE WEB WWW.JSKHAIREN.COM. PO BAKAL CUMA SATU HARI LEBIH-LEBIH DIKIT DOANG.
Namaku Ria. Pekerjaanku cukup canggih. Barang kali, hanya sedikit dari kalian yang pernah mendengarnya. Bayarannya sangat fantastis.
Aku berurusan dengan orang-orang kaya. Baik dari Indonesia, maupun dari mancanegara. Orang-orang super tajir ini, kalau soal kepuasan hidup, mereka sangat gila. Mau melakukan apa saja, demi merasa tenang, menang, kadang-kadang demi dapat rasa sayang. Aih, pusing pala adek bang!
Tak perlu mencari nama-nama mereka di daftar orang terkaya. Karena takkan kalian temukan. Mereka justru membayar, agar nama dan kekayaan mereka tak terdeteksi. Saat petugas keuangan negara masing-masing bisa mencium bau mereka pun, mereka lincah seperti belut sawah. Itu pun belut sawah yang pangkatnya sudah jenderal bintang sebelas.
Tak ada nama paling tepat untuk pekerjaanku ini. Biar gampang, aku menyebutnya luxury travel planner. Alias, tukang atur-atur, tukang pembuat rencana jalan-jalan kelas atas. Kliennya ya mereka orang-orang kaya. Bekerjanya? Sendiri. Aku merekrut orang, hanya untuk situasi tertentu.
Namun ini tak pernah hanya tentang jalan-jalan belaka. Ini tentang sesuatu yang kalian takkan pernah temukan di berita dan tayangan manapun, di perbincangan manapun.
Sekarang aku melayani klien dari Rusia. Sekelompok taipan — yang tampaknya adalah pengelola minyak dan gas. Tahu mereka minta dibawa ke mana? Ke Indonesia!
Terdengar gampang dan receh. Karena ya aku tinggal di Indonesia. Tapi asal kalian tahu, apa yang mereka lakukan, barang kali orang Indonesia pun ternganga mendengarnya.
Kode perjalanan mereka adalah Putri Duyung. Yak, seperti kodenya, mereka memang ingin bertemu putri duyung, sambil membicarakan bisnis. Ini dilakukan di tengah laut, di atas kapal pesiar. Bayangkan, itu jelas makhluk mitologi. Bagaimana aku harus membuat atraksi begitu untuk mereka? Namun, bayarannya sanggup membuatku pensiun dini.
Tempatnya di tengah laut, cukup jauh dari daratan pulau-pulau besar. Tentu saja putri duyung itu hanya kedok. Hanya demi kepuasan semata. Barangkali itu juga muncul dari celetukan saja. Tapi namanya orang super kaya, celetukan bisa jadi nyata dengan jentikan jari. Masalahnya, jarak dari jentikan jari ke wujud nyatanya adalah keringatku dan kepala yang pusing.
Mereka berkumpul di atas kapal pesiar, membahas sesuatu dengan bahasa Rusia. Curi-curi dengar, aku tak berhasil menangkap isi pembicaraan mereka. Tim yang juga aku rekrut dadakan apa lagi. Kadang malah kami berkomunikasi hanya dengan bahasa Tarzan, alias bahasa tubuh pada klien-klien ini.
Di meja, terhampar peta lautan dan pulau-pulau kecil. Juga ada pistol, cerutu, dan semua properti yang membuat kalian yakin bahwa mereka adalah mafia kelas kakap. Pekerjaanku yang tak ada jejak administrasi legal, maupun jejak digital ini, risikonya sungguh besar. Kalau-kalau salah satu orang ini mabuk, atau kecewa dengan pelayananku, dar der dor, bisa saja sebentar lagi aku dilempar ke lautan. Tapi mereka takkan berani. Aku sudah mengikatnya dengan satu kontrak mematikan.
Entah apa yang mereka bicarakan. Pertemuan itu cukup lama. Aku tak mengerti bahasa Rusia. Itu bukan tugasku. Begitu pertemuan mereka jeda antar sesi, aku langsung menjentikkan jari.
Seketika itu meloncatlah para perenang handal, ke atas kolam renang di kapal pesiar ini. Mereka menari, seperti putri duyung. Beberapa di antara mafia ini, mencoba menggoda penampilan mereka. Lampu-lampu laser ditembakkan, kembang api meluncur, hingar bingar di tengah laut yang gulita.
Mereka takjub, berserobot berjalan ke arah kolam renang di atas kapal, menyaksikan atraksi itu. Di tengah suara bising itu, terjadi sesuatu yang membuatku murka.
Pranggg.
“Blyat!” Sebuah gelas pecah, menyusul suara makian bahasa Rusia. Orang itu menampar stafku, seorang perempuan muda. Mungkin hanya satu atau dua tahun lebih muda dariku.
Aku bergegas, cari gara-gara rupanya ia pada stafku. Meski mereka ini mafia, orang penting sekalipun di negara mereka, menampar tak pernah masuk dalam kontrak kerja kami.
Stafku itu tampak menahan sakit di pipinya. Ia dibentak sekali lagi, langsung membersihkan pecahan gelas. Saat itu aku datang, menarik tangannya.
“Tak usah dikerjakan.” Bisikku. Tubuhku memutar, mataku menyorot tajam pada klien itu. “Minta maaf, dan kau bersihkan gelas itu sendiri.” Bentakku, namun tidak dengan nada keras.
Mafia Rusia itu hendak menyergapku, sementara pertunjukan Putri Duyung terus berlangsung. Teman-temannya yang lain menikmati, sambil beberapa orang menertawainya.
“Hei, kau turuti saja dia.” Kata seorang temannya sambil tertawa. “Nona Ria ini yang atur segala perjalanan kita. Kalau Ria sakit hati, maka satu telepon saja pada petugas, berantakan sudah. Kita ketahuan!”
Akhirnya ada temannya yang waras. Meski aku dibayar mahal, tidak serta merta membuat mereka bisa melewati batas begitu saja. Apa lagi sampai main kekerasan.
“Nona, aku protes. Aku minta wine! Kenapa malah jus jeruk.” Ujar si mafia yang menampar tadi.
“Itu juga bagian kesepakatan.” Tambah temannya. “Tak ada yang mau mengurus kita kecuali perempuan ini. Dia bersedia jika di atas kapal tidak ada minuman keras dan narkoba.”
Ia mengeluarkan cerutu, hendak membakarnya. Temannya, mengambil sigap cerutu itu.
“Tidak.” Kali ini ia tak bercanda. Ada tensi serius.
“Perjalanan apa ini!” Ia terpaksa mengalah dan menyembunyikan cerutu di mejanya. Gara-gara tatapanku, ia langsung memutar badan, menjongkok, dan membersihkan pecahan gelas. Sementara teman-temannya, menikmati pertunjukan Putri Duyung.
“Dan beritahu rekan-rekanmu, tidak ada yang boleh menggoda, menyentuh, atau melakukan hal tidak-tidak pada para perenang itu. Apa lagi memaksa mereka melakukan hal aneh-aneh.” Tutupku sambil mengusap lembut pipi stafku yang barusan ia tampar.
Aku tak peduli betapa pentingnya perjalanan bisnis mereka ini. Sekalinya menyakiti stafku, maka tak ada ampun. Sekalinya melanggar kesepakatan soal benda-benda terlarang, maka kontrak batal tanpa pengembalian dana. Sekalinya ada indikasi tindakan tak senonoh, perjanjian batal ditempat. Aku tak mau semua persiapan rumit ini, berantakan hanya karena satu dua peserta yang menyebalkan.
Kalian tahu berapa lama aku menyiapkan semua ini? Tiga hari! Tidak seperti jalan-jalan open trip yang pernah kamu ikuti kan? Tidak juga seperti jalan-jalan dengan teman sekolah dan kuliahmu yang terus-terusan wacana itu. Tidak juga seperti wisata kantor kalian, yang sudah disiapkan berminggu-minggu, berbulan-bulan, yang tak tahunya di akhir malah tidak disetujui anggarannya oleh bos kalian itu?
Cih, kalian capek kerja, omzet perusahaan tercapai, bonus jalan-jalan kecil saja tidak dapat. Pecahkan gelas ke atasan kalian, jangan pada klien yang telah membangun reputasi kalian itu!
Agar dapat melakukan pelayaran ini, aku harus menyogok, lalu mengatur rute pesiar agar tak terdeteksi radar dan otoritas. Juga harus mengakali polisi, menyelipkan sedikit pelicin, mengelabui petugas administrasi pelabuhan, dan tentu saja, mencari selusin penyelam profesional bersertifikat, yang bisa menjadi putri duyung. Ini mengumpulkannya susah lagi. Tiap penyelam, lain lagi spesifikasinya. Minimal harus sudah pernah 1000 kali melakukan penyelaman. Punya sertifikat internasional. Plus bisa nyaman menyelam mengenakan kostum putri atau putra duyung.
Bagi kalian, mungkin ini sudah cukup aneh. Namun, itu baru satu dari sekian klien yang pernah aku layani. Selebihnya, jauh lebih aneh-aneh lagi. Nanti aku ceritakan satu per satu.
Itu salah satu permintaan terberat klien Rusia ini. Yang lainnya, yaaa cukup bikin pusing namun bisa aku tanggulangi. Semisal, pewangi ruangan tidur salah satu dari mereka, harus ambergris asli.
Kaliah tahu ambergris? Itu muntahan paus sperma jantan, yang sering jadi bahan dasar parfum. Baunya sih, minta ampun mengoyak hidung. Tapi bagi hidung si klien ini, bau muntahan adalah puncak kenikmatan indera penciumannya. Harga benda ini? Beuh, jangan main-main. Sekeluarga besar kalian bisa pensiun dini.
Klien Rusia ini baru selesai. Salah satu orang mereka, mengucapkan salam dan terima kasih padaku dengan bahasa Inggris. Namun aku mencoba membalasnya dengan bahasa Rusia.
“Спасибо!” Kataku. Dibaca spasiba. Yang artinya terima kasih.
Tak lama, rekeningku basah. Nafasku lepas. Hidungku akhirnya bisa rehat untuk mencium sedikit aroma laut malam yang bercampur mesiu kembang api. Saatnya istirahat pulang. Masalahnya, aku tak punya rumah untuk pulang.
Aku langsung mengusir pikiran akan rumah. Urusan mengembalikan kapal pesiar, menyogok petugas, dan membayar para putri dan putra duyung dan seluruh staf kapal, jauh lebih penting.
Pekerjaan ini tak terdeteksi, maka aku harus membayar mereka dengan uang tunai. Di pesiar ini, aku punya satu kamar khusus, isinya koper berisi uang semua. Sebetulnya, ya bisa saja sih ditransfer. Masalahnya, para pekerja untuk proyekku yang satu ini, tak satupun punya rekening bayangan di negara manalah.
Nanti sampai di rumah, mungkin mereka takkan langsung tertidur. Jangankan sampai di rumah, sekarang saja saat masih berkostum putri dan putra duyung, mereka sudah menghitung uangnya.
“Mba Ria, aku maulah, jadi Putri Duyung tiap hari kalau begini.”
Aku tak punya energi lagi menggubris. Para mafia Russia itu sudah pergi dengan helikopter mereka.
“Mba Ria, terima kasih ya tadi.” Staf dapur yang tadi kena tampar menghampiriku.
“Pergilah berobat, sebelum pulang ke rumah.” Aku menyelipkan uang tambahan ke sakunya.
“Iya, Mba Ria. Eh, makasih tidak usah. Kebanyakan ini mba.”
“Sebentar.” Aku bergegas ke salah satu meja. Mengambil sebuah gelas, masih penuh dengan jus jeruk. Belum ada yang meminumnya. “Kamu namanya siapa? Sudah pernah coba jus ini?”
Ia menggeleng. Aku menyodorkannya. Saat meneguk jus itu, wajahnya seperti tersetrum listrik. Jelas saja, itu memang jus jeruk paling premium di Planet Bumi. Ditanam di pulau Crete sana. Konon, para dewa Mitologi Yunani memanennya dengan tangan mereka sendiri.
“Suka?” Tanyaku, masih memperhatikan pipi merahnya bekas kena tamparan.
Ia mengangguk, senyumnya semanis jeruk. “Pergilah ke dapur. Minta pada petugas. Bawa sekardus pulang ke rumahmu.”
Kini tubuhnya yang tersentrum. Bergegas ia pergi ke dapur. Aku pun bergegas pergi turun dari kapal.
“Mba Ria, hati-hati pulangnya! Selamat sampai rumah.” Teriak stafku korban tamparan mafia Rusia itu.
Hati-hati pulangnya. Selamat sampai rumah.
Sudah lima belas tahun, aku jijik dan benci pada kata itu. Rumah. Tempat yang harusnya nyaman bersandar bagi punggung dan bahu, malah jadi duri paling tajam penuh racun. Hidungku yang sedang enjoy menghirup aroma laut, tiba-tiba seakan sedang berada di ruang tengah keluarga. Kalian tahu kan, bau rumah masing-masing?
Jika kalian pergi jauh dari rumah dalam keadaan baik-baik saja, entah karena sekolah jauh, naik gunung, atau mungkin karena pekerjaan, maka bau rumah akan membuat kalian senyum-senyum sendiri. Aku tidak. Malah sebaliknya. Bau rumahku, mencungkil rasa jijik. Sejijik kalian saat terpaksa naik motor, berkendara di belakang mobil ayam atau truk sampah. Bau? Bau. Jijik? Apa lagi. Tapi kalian tak punya dendam pada ayam, atau truk sampah. Masalahnya, aku sudahlah jijik, punya dendam pula pada rumah.
“Anak perempuan macam apa, harus mau menurut orangtua! Durhaka” Ingat betul aku kalimat ibu. Lain waktu, ia mengambil peralatan pengering rambutku. Yang aku beli dengan gaji pertamaku. Lebih menyakitkannya, ibu menjualnya. “Mau bergaya kamu? Menyerobot jantan mana?” Pernah ibu kalian bicara begitu? Aku sering.
Ayah? Kata-katanya tak pernah menyakitkan, namun tindakannya mematikan. Aku, belasan tahun lalu, tumbuh rasa benci pada ayah. Melihat ia menggendong seorang anak, di rumah orang lain. Puncaknya, saat mereka mengusirku di usia remaja.
*
Kapal kami menepi. Seluruh staf aku suruh pulang ke rumah masing-masing. Mereka bukan karyawan permanen. Aku mencari pekerja, sesuai proyek yang ada. Kadang kerja sendiri, kadang kerja dengan tim seperti barusan.
Malam ini juga aku langsung ke bandara. Ambil penerbangan paling pagi esok hari. Tanpa tidur, aku mendarat di ibukota dengan lelah dan kantuk. Kalimat petugas dapur korban tamparan semalam, terus terngiang. Hati-hati pulangnya. Selamat sampai rumah.
Aku pergi menuju apartemenku. Sebuah kamar apartemen yang mungkin kalian tak bisa membelinya bahkan dengan gaji bekerja seratus tahun.
Oh kalian mulai kesal dengan nada sombong bin songongku ini? Tapi justru menyukai tindakanku yang melindungi stafku setelah kena tampar? Begitulah manusia. Oportunis. Mau berteman hanya dengan sisi manis. Saat dapat sisi pahit, kalian berlagak seperti malaikat. Tak usah sok hebat kalian. Ku beli sok hebatmu itu nanti. Anggap saja aku saudara perempuan kalian yang judes dan sombong, namun akan berdiri paling depan melindungi kalian saat tersakiti.
Saat di perjalanan dari bandara ke apartemen, masuk dua pesan singkat. Satu dari nomor tak aku kenal — yang kemungkinan adalah klien lama. Satu lagi dari ibuku.
Ada apa? Sudah lama ibu tak menghubungiku. Malas sekali membacanya. Pasti mengungkit-ungkit ia sudah lelah membesarkanku. Atau menganggap uangku adalah setengah miliknya. Atau ya palingan jual cerita sedih lagi. Mentok-mentok minta bantuan. Sebelum bahkan membaca pesan ibu, aku langsung kirim sejumlah uang. Malas banyak drama.
Pesan kedua.
Dari nomornya, sepertinya ini orang Timur Tengah. Mungkin Emre — mantan klienku dari Turki itu, merekomendasikan jasaku pada koleganya.
Rupanya ia berbahasa Indonesia. “Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Betul ini dengan saudari Ria?”
Aku kaget. Bukan karena dia orang Indonesia. Namun karena ia mengucapkan salam dengan bahasa lengkap. Saat aku lihat fotonya pun, tak ada wajah siapa-siapa di sana. Melainkan kosong melompong.
“Habis maghrib?” Aku terpekik pelan di mobil. Sampai bapak pengemudi ikut terperanjat kecil. Mereka memintaku bertemu hari ini juga, selepas maghrib?
Sekarang masih menjelang siang. Artinya aku masih punya waktu untuk istirahat. Aku turun dari mobil, menyelipkan satu lembar uang ke saku pengemudi. Kamu, nanti sekaya apapun, selipkanlah sedikit uangmu pada orang-orang seperti pengemudi ini. Untuk yang satu ini, aku tidak mengajak kalian bersombong. Tapi percayalah, yang begini-gini akan memberikan kepuasan batin tertentu.
Sampai di kamar apartemenku, aku menghempaskan tubuh ke kasur selembut sutra. Kamarku saja, jauh lebih mewah dan luas dari kebanyakan rumah kalian. Aroma ruangan ini? Wangi kulit jeruk. Bukan, bukan pewangi murahan seperti yang kalian gantung di mobil kredit kalian itu. Yang di sosial media, banyak muncul meme tentang parfum itu.
Doakan aku ya. Dapat driver mobilnya parfum jeruk ini. Begitu isi meme-nya. Nah, aku bukan yang itu. Ini aku pesan dari Prancis langsung. Pembuatan tanpa banyak bahan kimia. Aduh maaf, percuma saja aku jelaskan. Prancis saja bagi kalian, mungkin hanya sebatas gambar menara Eiffel di televisi, poster di kelas atau di kamar pesantren kalian. Duh tapi kalau kalian banyak uang, tak usahlah ke Paris, kota ini bau sekali.
Bayangan hingar bingar orang Rusia tadi malam masih selip menyelip di pikiranku yang sudah mulai tertidur. Di ruang antara bangun dan tidur itu, aku lagi-lagi bertanya apa isi pesan ibu ya? Akan sebenci apa aku pada kalimat-kalimat tak terbaca itu? Atau kalian saja yang bacakan, mau tidak. Nih, buka saja ponselku. Balas apalah, suka-suka kalian.
Ah, apapunlah itu. Pasti lagi-lagi hendak memarahiku. Menuntut sesuatu. Memaki, atau mengungkit-ungkit hal yang itu ke itu saja. Dari remaja pun, aku sudah dicucuk hidung oleh ayah dan ibu toh? Dipaksa masuk pesantren. Alasannya agar aku jadi anak baik, pintar dan berakhlak. Padahal apa susahnya bilang kami tak lagi mencintaimu, dan malas mengurusmu. Menghabiskan beras di rumah saja. Pesantren. Aku bahkan muak mendengar kata itu.
Bagi mereka, aku adalah anak kecil yang harus patuh. Tak boleh bersuara. Tak boleh pergi sendiri bahkan ke warung. Ironi bukan, aku malah disuruh ke pesantren?
Ruang antara bangun dan tidur itu berubah. Tidur-tidur ayam. Tapi bukan ayam yang di depan motor kalian tadi.
Layar di imajinasiku bergeser, soal kira-kira apa yang mereka inginkan, klien yang hendak bertemu nanti malam. Perlahan, aku lenyap ke alam tidur. Tidak, sedikit lagi.
Bayarannya sudah pasti besar. Ini tak lagi soal uang. Ini sudah urusan kepuasan lain yang aku tak temukan di pekerjaan-pekerjaanku sebelumnya. Puas sekali rasanya bisa memiliki apa yang kau mau. Nikmat sekali memelihara rasa kesal orang, karena kita tidak patuh padanya. Kalian cobalah sekali. Ketuk langkah dan prestasi kalian, bagaikan mesin cincang daging di telinga mereka. Coba cetak rekening koran bank kalian, lalu pajang di depan muka orangnya. Aku berencana melakukan ini satu saat.
Ya, meski itu orang-orang di rumahku sendiri. Tak ada satu pun pekerjaan, atau kegiatan yang aku lakukan membuat mereka bangga. Atau sekadar berterima kasih padaku. Bagi ayah ibu, yang boleh terbang tinggi dengan karir dan pekerjaannya hanya abangku. Anak laki-laki di negara ini, begitu diharapkan. Anak perempuan, terbang boleh tapi cukup setinggi genteng rumah saja.
Entah berapa lama aku tertidur, tubuhku terhentak bangun. Bukan karena alarm, tapi karena aku mendengar suara adzan.
Matilah! Kalau itu adzan ashar, aku masih punya waktu bersiap. Kalau rupanya adzan maghrib, calon klienku pasti kecewa. Malah bisa batal kerja sama sebelum berangkat.
Lekas aku membuka tirai, rupanya itu adzan maghrib. Reputasiku akan hancur sebentar lagi. Aduh, kenapa kamu yang membaca cerita ini tak membangunkanku? Ah, aku tahu, kamu masih kesal karena dari tadi aku menyombong terus. Tak apa, makin ke belakang, akan makin banyak rasa sombongku. Kamu siap-siap saja.
Aku langsung membuka ponsel. Hanya ada satu pesan. Aku melihat lokasinya. Rupanya tak jauh dari apartemenku. Hanya sekitar dua blok jika berjalan agak cepat, barangkali hanya butuh lima menit.
Mandi, berpakaian, make up ala kadarnya. Semua aku lakukan sepuluh menit. Sebuah kelangkaan bukan, untuk kaum perempuan? Bisa melakukan itu semua dalam waktu super singkat. Apa? Kamu juga bisa secepat itu, bahkan lebih cepat? Baik, aku kalah sombong kali ini. Ampun suhu.
Jalanku semakin cepat. Dari pengeras suara sebuah masjid di ujung sana, itu jelas mereka sudah di rakaat terakhir. Aku melewati satu blok.
Mataku berkedut. Sisa-sisa tidur tadi masih belum jinak. Tanganku merogoh tas, mengambil tetes mata. Satu tetes, dua tetes, tiga tetes, semoga mataku tidak merah saat bertemu klien ini.
Blok berikutnya aku lewati. Solat berjamaah di masjid sudah menjelang tahiyat akhir — duduk bersimpuh, proses terakhir dalam tiap solat.
Hotel itu terlihat. Aku bergegas masuk. Periksa keamanan sedikit di pintu hotel, petugas pun mengizinkan. Aku masih sempat menyemprotkan parfum ke leher, membetulkan rokku yang setinggi lutut, dan membentuk ulang tekstur rambutku dengan jari.
Petugas hotel membawaku ke sebuah ruang pertemuan. Tidak terlalu luas. Namun kursi dan mejanya besar-besar.
Pesan ibu datang lagi. Aku tak sengaja mengintip bagian depannya.
“Solat maghrib jangan lupa Nak Ria.” Nafasku tertahan saat membacanya. Ibu, tempat aku merawat dendam itu, kok ingin sok-sok terlihat baik terus sih, dengan menyuruhku solat?
Lagi pula hei? Sudah bertahun-tahun aku tidak solat. Ibadah? Jika senyum termasuk ibadah, barangkali hanya itu yang masih aku lakukan. Saking bosannya aku dengan kalimat ibu itu, waktu remaja aku pernah pura-pura solat. Sengaja aku tak lipat sajadah di lantai, sengaja aku tumpuk mukenah di atasnya, biar aku terlihat telah solat.
Pintu ruangan terbuka dari luar. Aku membetulkan rokku lagi. Kalian tahu? Penampilan cantik dan memikat, juga jadi salah satu faktor penentu klien-klien besar ini tertarik menggunakan jasaku.
Jika kamu yang membaca cerita ini adalah laki-laki, kamu mungkin tak paham ini. Kami, sejak remaja ingin sekali terlihat cantik dan menawan. Salah satu alasannya, hidup jadi jauh lebih mudah. Ada yang bilang, tampil cantik untuk diri sendiri. Cih. Ya, memang ada benarnya juga mereka. Tapi satu hal yang kalian para laki-laki tidak tahu, tampil menawan mempermudah banyak jalan.
Bertahun-tahun belakangan, aku sangat menjaga penampilan. Semua gaya rambut aku coba, tergantung profil calon klien. Mulai dari bob standar sampai yang agak centil sedikit, sampai rambut yang dipotong ala wolf cut, atau bahkan dikepang. Semua tergantung mata orang seperti apa yang akan menatapku. Apapun gaya rambutnya, aku selalu request pada stylist-ku, harus ada sisi imut plus profesional.
Perawatan kulit hingga kuku? Tak usah ditanya lagi. Bahkan pakaian yang aku kenakan, semua dibuat oleh artisan. Bukan pabrikan. Tidak seperti kalian yang menunggu diskonan. Maaf, aku memang senang membuat kalian kesal. Coba sini kita pajang sebelah-sebelahan rekening koran.
Para klien-klien besar itu, satu dua kali ada yang berusaha menggodaku. Aku masih sangat muda. Usiaku dua puluh tujuh tahun. Masih melajang. Kulit kuning terang, dan mata bulat anak kucing, khas orang Asia Tenggara. Pipiku sedikit tembem, lesung pipi hanya ada sebelah.
Sekaya dan setinggi apa juga derajat para lelaki ini, bahasa tubuh mereka tak bisa berbohong. Jika ada perempuan modern yang bilang, mereka bergaya untuk diri sendiri, maka, yaaa maka sebagian mereka itu berbohong. Mungkin ada yang benar-benar untuk diri sendiri, tapi aku tidak. Sebagian lain perempuan di luar sana juga tidak.
Klienku dari Amerika Serikat pernah bilang. Cara tercepat membangun kekayaan adalah berbisnis pada hal-hal ini. Hasrat lelaki. Keinginan perempuan untuk tampil cantik. Urusan kesehatan kaum jompo bin renta. Rasa takut orang kaya akan kemiskinan. Dan hausnya orang miskin yang ngebet sekali agar tampak kaya. Eh aku lupa satu lagi, aku pernah jadi objek bisnis ini, yaitu pendidikan anak. Ya jelas dong? Itu bisnis saja! Pesantren meminta bayaran SPP itu besar sekali. Belum uang asrama, uang makan, uang buku dan segala macam.
Maka malam ini, aku tampil mempesona. Hasrat lelaki, salah satu kunci dari enam bisnis sukses kan? Meski sudah terbiasa bertemu orang-orang super kaya, aku tetap penasaran klien kali ini siapa.
Kemarin, salah satu mafia Rusia itu, jelas menggoda dan berupaya memancing pembicaraan ke hal yang tidak-tidak. Namun, aku sudah hafal betul cara menanggulanginya. Kali ini jika terulang pun, aku sudah tahu harus apa. Lagi pula mereka orang Indonesia toh? Lebih mudah skak mat mereka.
Pintu itu terbuka, beberapa langkah kaki masuk. Aku mengatur dudukku lagi sedemikian rupa, agar memberi kesan menyenangkan sejak pertemuan pertama. Entah menyenangkan secara visual — penampilanku. Entah menyenangkan secara pelayanan — kemampuanku memenuhi rencana mereka. Entah menyenangkan secara apapunlah.
Namun…
Aku salah besar. Taktik tampil cantik dan menarik, kali ini gagal total.
Orang-orang yang masuk, adalah lelaki-lelaki tinggi. Mereka menggunakan thobe — pakaian lelaki khas arab. Di tangan mereka ada yang memegang tasbih dan kitab suci Al Quran.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Salam mereka. Suaranya berat namun tenang. Tak satupun dari mereka yang menatapku langsung. Bagaimanapun aku menjurus ke pupil mereka, seketika itu juga mereka menghindar.
Di belakang mereka, ada dua orang perempuan. Satunya tua, mungkin seusia ibuku. Satunya, sepertinya seusiaku atau malah lebih muda. Mereka juga mengucapkan salam. Nadanya ringan dan lembut.
“Wa… waalaikumsalam.” Jawabku. Entah sudah berapa lama aku tak mengucapkan lagi kalimat ini. Kerongkonganku syok, bisa-bisanya kembali mengucapkan salam. Malaikat pencatat amal baik mungkin syok. Duh, kesombonganku yang bertubi-tubi dari tadi, sekarang malah kena skak mat. Baiklah, aku minta maaf pada kalian. Nanti kalau aku sombong lagi, aku minta maaf lagi.
Aku langsung membetulkan posisi duduk. Menurunkan rokku agak kikuk. Tubuhku tanpa diperintah, juga sedikit membungkuk.
***
Episode 2, 3 dst. Gatau deh, diaplot pas nggak mager. Ingat, catat di kalender dan alarm kalian. PO tanggal 25 Desember via www.jskhairen.com, atau link di bio IG gue. Link di bio itu, udah ke semua; toko oren, ijo, item, kuning, kelabu, di langit yang biru. Juga Gramedia. Ntar ada di situ semua linknya, lu pilih aja. Nah ketua, elu yg 3-4 bulan lalu gue kasih kesempatan jadi pembaca pertama, sila kalau mau kontenin udah boleh ya. Invite collab ke gue jg boleh, asal kontennya mantap. Nge-review, nge-react, atau apalah suka2. Jedag-jedug juga bisa.
Buat pembaca umum, sampulnya alias kover, belum tahu gue mau spill kapan. Tunggu ajalah ya. Atau bisa aja gak di-spill sama sekali. Pas hari PO doang, atau pas udah datang di rumah kalian aja baru ketahuan sampulnya. Suka2 gue awokwokw.
Respons2 dan pertanyaan lu ntar di medsos ttg novel ini, sila komen aja. Biar bisa jadi ide konten buat gue dan tim. Kami asli lagi riweh bgt ini itu. Udah mau PO 2 mingguan lagi, kami baru wara-woro seputar quotes-quotesnya doang. Dahlah, bagus pokoknya ni novel awokwokw.
OH YA, PO cuma bakal sehari doang lebih-lebih dikit.
Salam, J.S. Khairen. Gue akan muncul di novel ini, sama Trian. Munculnya tipis-tipis nyebelin. Kalau Trian, munculnya tipis-tipis-manis. Awokwowkw.